Adakalanya Perintang Kebenaran Datang Berulang


Sungguh Islam merupakan agama yang indah, agama yang berjalan diatas bimbingan kebenaran. Agama yang terjaga hingga akhir masa, agama yang dengannya Allah Ta’ala menurunkan Nabi akhir zaman dan takkan ada lagi nabi sesudah beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam. Namun selalu ada penentangan diatas jalan kebenaran. Tak selamanya kebenaran berjalan mulus tanpa hambatan. Akan tetapi selalu ada rintangan yang menghalanginya, namun justru rintangan itulah yang mengokohkan bahwa begitulah kebenaran. Tak tergoyahkan dengan guncangan dahsyat sebab kokohnya berada dibawah perlindungan Ar Rahman dan selalu ada insan-insan pilihan yang meneguhkan keimanan.

Peperangan itu terjadi di masa khalifah Abu Bakar radhiyallohu ‘anhu. Sebuah peperangan yang berawal dari keputusan karena dillandasi adanya beberapa kabilah yang murtad setelah Rasulullah wafat. Usungan peperangan itu salah satunya adalah memberangus makar Musailamah Al Kadzdzab yang pernah dipermalukan oleh Abu Hurairah dengan sebutan seseorang yang mendapatkan wahyu dari syaithan. Di dalam perang ini ikutlah serta Hubaib bin Zaid bin Ashim, putra pemberani dari ibu seorang pemberani yang juga shahabiyah yakni Ummu Imarah Nusaibah bintu Ka’ab bin Amru bin Auf bin Mabdzul Al-Anshariyyah dari Bani Mazin An-Najjar. Wanita tangguh yang berkali-kali turun ke medan jihad. Hubaib pada saat memerangi pasukan Musailamah harus merelakan dirinya tertawan oleh pasukan Musailamah beserta gembong makarnya. Maka ketika Hubaib tertawan, terjadilah dramaturgi penyiksaan demi mendapatkan pengakuan bahwasanya Musailamah adalah sang Nabi pengganti. Terjadi pulalah dialog antara Hubaib dengan Musailamah. Musailamah bertanya kepada Hubaib, “ Engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah?” Hubaib pun menjawab, “Ya”. Lalu Musailamah kembali bertanya, “Engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?” Hubaib pun menjawabnya dengan jawaban yang indah penuh makna, “Aku tidak mendengar apa yang kamu katakan itu.” Sehingga akhirnya Musailamah pun mencapai titik nadir, emosinya tak tertahan, wahyu dari syaithan pun kembali datang lantas ia memotong-motong bagian tubuh Hubaib hingga akhirnya Hubaib pun mendapatkan syahidnya.

Musailamah dipermalukan oleh Hubaib dengan perkataan “Aku tidak mendengar apa yang kamu katakan itu.” Ya, ganjaran yang pas bagi penyeru kebatilan kala menggoyang-goyang keimanan pejuang kebenaran. Hubaib memerangi Musailamah untuk mendapatkan syahid yang diawali dengan tertawan dirinya, justru ditawarkan untuk melakukan pengakuan dengan pemaksaan. Episode memalukan bagi seorang Nabi palsu. Penghinaan sekaligus pelecehan terhadap simbol-simbol keangkuhan yang dilakukan hanya dengan beberapa kalimat lontaran.

Sejarah berjalan bersamaan, Nabi palsu pun kembali datang. Masanya pun tak jauh dari masa dimana Musailamah melakukan kedunguan yang serupa. Gaya yang dikampanyekan sama, dan momentum yang dipakai lebih dahulu dilakukan duplikasinya. Aswad Al Ansi mendapatkan wahyu dari syaithan untuk kembali kepada kekafiran setelah ia mendengar tersebarnya berita di seluruh penjuru jazirah Arab bahwasanya sepulang haji wada, Rasulullah jatuh sakit. Aswad Al Ansi, sosok yang jauh dari sifat-sifat kriteria untuk menjadi seorang Nabi. Sebagaimana Musailamah, Aswad adalah sosok yang kuat fisiknya, besar ambisinya, keras jiwanya, dan satu hal yang membuat ia punya citra ialah ahli dalam hal ihwal perdukunan jahiliyah. Proses mencari dukungannya adakala tak menggunakan kekerasan, caranya dengan membagikan hadiah dan aksi sosial, hal ini dilakukan untuk menghadirkan sosok rahmah dalam dirinya. Karena dimanapun seseorang untuk mendapatkan simpati berlatarbelakang riya serta eksistensi mesti melakukan perjuangan dan pengorbanan. Aswad Al Ansi pun ketika tampil di khalayak publik selalu mengenakan topeng hitam agar terlihat sosok layaknya ia menjadi Nabi bagi penentangnya dan agar terkesan angker serta terasa kuat kehebatannya.

Dakwahnya menjalar di penjuru Yaman, bala bantuannya ialah kabilah Bani Madhaj. Proses citra diri yang dilakukan pun sangat jitu, bak sistematika bisnis marketing untuk menggait mangsa. Ia menempatkan mata-mata ditengah masyarakat untuk mendengar keluhan masyarakat, menguak rahasia-rahasia ditengah mereka, memancing cita-cita dan harapan yang tersimpan di benak mereka, pada saat yang sama pula Aswad mengusahakan agar orang-orang meminta tolong kepadanya. Ketika orang-orang datang, Aswad memberikan pelayanan publik yang memuaskan. Acapkali ia memenuhi segala kebutuhan masyarakat, menampilkan hal-hal ajaib dengan kekuatan sihirnya, membuka rahasia yang mengundang decak kagum, dan dahsyatnya membeberkan bahwa malaikat turun dari langit untuk memberikan wahyu dan membuka tabir-tabir ghaib bagi dirinya serta menambahkan bubuk rekayasa untuk meramaikan industri kenabian yang ia perankan. Kesesatan semakin menjalar, dan Shan’a menjadi bagian dari kendali kekuasaanya, tak luput pula Hadhramaut, Aden, Tha’if, dan Bahrain.

Namun Allah senantiasa menjaga agama ini dari tangan-tangan berlumuran noda. Makar Allah lebih besar dibandingkan makar mereka. Tatkala Aswad berhadap[an dengan pejuang-pejuang keimanan yang di dadanya terdapat sumbu kebenaran, maka seketika itu pula Aswad menyalakan suluh keberatan. Ditrangkap dan disiksa sebagaimana gaya Musailamah memperlakukan Hubaib. Namun dari sekian banyak penentang Aswad, darisanalah muncul jiwa-jiwa seperti Hubaib. Abu Muslim Al Khaulani, seorang tabi’in yang telah masuk Islam ketika Rasulullah masih hidup, namun belum sempat bertemu dengan beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Muslim Al Khaulani murid dari sahabat terkemuka seperti Abu Ubaidah bin Jarrah ataupun Abu Dzar Al Ghifari. Abu Muslim tertangkap oleh Aswad Al Ansi karena ia memiliki simpati tersendiri di mata penduduk Yaman. Membinasakannya bagi Aswad merupakan terbukanya jalan tersendiri untuk memuluskan langkahnya menjadi Nabi lebih baik lagi.

Gatal tangan Aswad terobati setelah sukses menangkap Abu Muslim. Di lapangan Shan’a telah berkobar nyala api untuk membakar Abu Muslim yang telah disiapkan oleh prajurit Al Ansi. Semua orang dipanggil untuk melihat bagaimana seorang ahli fikih dan ahli ibadah Yaman itu hendak ‘berserah diri’ atas kenabian Aswad. Sampailah saat yang telah dinanti, Aswad masuk ke lapangan dan menduduki singgasana megah miliknya, didepannya ada api yang menjilat-jilat kayu bakar lalu mengepulkan asap tebal. Aswad menatap Abu Muslim dengan penuh kecongkakan. Padahal sejatinya episode baru satu babak mempermalukan akan dimulai. Percakapan pun terjadi.

Aswad bertanya, “Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah?” Abu Muslim pun menjawab, “Benar, Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Dialah sayyidul mursalin dan khatamun nabiyyin.” Berkerut dahi si pendusta yang mengaku Nabi, marah tergambar pada alisnya yang mengangkat tak seperti biasa. Untuk meyakinkan kembali, maka Aswad kembali bertanya, “Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?” lantas Abu Muslim pun menjawab, “Telingaku tersumbat, tak bisa mendengar kata-katamu.” Al Aswad semakin naik pitam, “Jika demikian, aku akan mencampakkanmu kedalam api itu!!” Abu Muslim menjawab, “Bila engkau membakar aku dengan api dari kayu, engkau akan dibalas dengan api yang bahan bakarnya manusia dan batu-batu, dibawah penjagaan malaikat-malaikat yang perkasa, yang tidak menentang Allah Ta’ala dan senantias mematuhi perintah-perintah yang diberikan kepada mereka.” Al Aswad pun merajuk rayu, “Aku tidak tergesa-gesa, aku beri engkau kesempatan untuk menggunakan otakmu. Apakah engkau tetap mengakui bahwa Muhammad adalah Rasulullah?” Abu Muslim pun menjawab rayuannya, “Benar aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Allah mengutusnya dengan membawa agama dan petunjuk yang benar. Allah menutup seluruh risalah-Nya dengan risalah yang dibawa oleh Muhammad.” Aswad al Ansi meninggikan suaranya, “Kamu bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah??” Abu Muslim menjawabnya kembali, “Sudah aku katakan kepadamu, bahwa telingaku tersumbat sehingga tak bisa mendengar kata-katamu.”

Adakalanya Perintang Kebenaran Datang Berulang
Penentang kebenaran selalu ada ditengah dan pinggir jalan. Dan penentangan itu kadang datangnya silih berulang. Bertambah memang, tapi karakter tiruan membekas pada pengawalan sejarah lampaunya. Salah satu cerita yang tak lekang adalah balada Nabi palsu, selalu ada ditiap masa, bahkan tak jarang muncul sekaligus dua atau tiga. Fenomena usang yang acapkali berulang, namun acapkali pula selalu ada pendukungnya dari barisan-barisan korban pembodohan. Sebagaimana kebenaran memiliki rujukan dan ada teladan, semestinya kesesatan juga memiliki rujukan dan teladan, agar para pengikut kebatilan tersebut memiliki indikator sejauh mana ia akan merasakan akibatnya bila usungan kesasatannya menemui jalan buntu beralamat kegagalan.

Dari sejarah itulah semestinya kita belajar, soal cerita teguhan kebenaran dalam menapaki jejak luhur nan mulia yang tak pernah sirna dari masa ke masa. Dalam konteks keseharian, sejatinya kita seringkali mendapat perintang-perintang melalui mulusnya jalan menapaki kehidupan yang diusahakan untuk benar dan baik. Rintangan ada yang berulang dan ada yang mengulangkan. Sedemikian itu pula kita sering menggubris perintang itu. Padahal acapkali datang berulang atau mengulang dengan model yang telah dimodifikasi nilai serta harganya. Waktu yang terbuang padahal sebelumnya kita telah bisa menyelesaikan potongan solusi dari perintang itu. Namun karena lupa, atau entah lalai bagaimana mendera. Lalu hilang sudah kesempatan mengefektifkan waktu meredam perintang itu.
Generasi terbaik, telah mewariskan banyak rumusan untuk membentuk formula-formula kehidupan yang membahagia lubuk jiwa. Hanya dengan menutup telinga, kedua potret sejarah dalam waktu yang nyaris bersamaan tanpa alat komunikasi canggih pada masanya, telah bisa mengerdilkan perintang-perintang jalan kebahagiaan yang ada. Sejatinya sejarah memang tidak untuk dilupakan, demikian adanya agar bisa menjadi rumus paduan menjalani kehidupan. Menutup telinga adalah hal sederhana untuk diucapkan, namun berharga bila dilakukan untuk membungkam perintang. Apatah pernah diulang ataukah mengulang. Dan siapapun bias melakukannya bila telinga itu masih menempel sempurna di sisi muka manusia. Tutuplah telinga untuk menghalau kegagalan ataulah perintang jalan yang benar. Sebab adakalanya tutup telinga itu sangat berarti untuk meyakinkan diri. Bukan juga menutup telinga yang berarti tak menerima kritik atau saran, akan tetapi tutup ntelinga disini bermakna dan member harga pada mereka yang teguh diatas jalan kebenaran.
Wallahu ‘alam bii shawwab.

Komentar Terbaru

Just load it!