Perintah Allah yang Paling Agung



Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Rabbmu memerintahkan: Janganlah kalian beribadah kecuali hanya kepada-Nya, dan kepada kedua orang tua hendaklah kalian berbuat baik.” (QS. al-Israa’: 23)


Sahabat seakidah, para pemuda muslim yang dirahmati Allah.. Kita telah mengenal bersama, bahwa hakikat tauhid bukanlah semata-mata dengan mengakui Allah sebagai satu-satunya pencipta. Akan tetapi lebih daripada itu, tauhid adalah mengesakan Allah dalam beribadah kepada-Nya. Tidak menyembah kecuali kepada Allah semata, dan mengingkari segala sesembahan selain-Nya. Tauhid adalah asas dan ajaran yang paling fundamental di dalam agama kita.

Perintah untuk bertauhid lebih penting dan lebih utama daripada perintah untuk menjalankan ibadah-ibadah yang lainnya. Dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Aku diperintahkan untuk memerangi umat manusia sampai mereka mempersaksikan laa ilaha illallah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, dan menunaikan zakat. Apabila mereka telah melakukannya maka mereka telah menjaga dariku darah dan harta mereka kecuali dengan alasan yang dibenarkan Islam. Adapun hisab atas mereka itu adalah urusan Allah.”
(HR. Bukhari no. 25 dan Muslim no. 22)
Tauhid merupakan pokok ajaran agama. Oleh sebab itu amat wajar jika perintah bertauhid adalah perintah yang paling mulia di dalam agama kita. Syaikh Muḥammad bin Ṣālih al-’Uṡaimīn rahimahullāhberkata, “Sesungguhnya tauhid menjadi perintah yang paling agung disebabkan ia merupakan pokok seluruh ajaran agama. Oleh sebab itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dakwahnya dengan ajakan itu (tauhid), dan beliau pun memerintahkan kepada orang yang beliau utus untuk berdakwah (baca: da’i) agar memulai dakwah dengannya.” (lihat Syarh Tsalatsat al-Ushul, hal. 41 cet. Dar ats-Tsurayya) 
Tauhid adalah pondasi agama. Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara: tauhid kepada Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan haji.” (HR. Muslim no. 16).
Syaikh Abdul Malik Ramadhani hafizhahullah berkata, “Tauhid ini memiliki kedudukan penting laksana pondasi bagi suatu bangunan.” (lihat Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, hal. 13)
Selain itu, tauhid merupakan syarat utama diterimanya amalan. Oleh sebab itu, ‘Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma menafsirkan ibadah dengan tauhid, yaitu firman Allah (yang artinya), “Wahai umat manusia, beribadahlah kepada Rabb kalian.” (QS. al-Baqarah: 21). Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Artinya tauhidkanlah Rabb kalian…” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [1/75] cet. al-Maktabah at-Taufiqiyah).
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu al-Kitab dengan membawa kebenaran. Maka beribadahlah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya. Ketahuilah, hak Allah untuk menerima agama/ketaatan yang murni.” (QS. az-Zumar: 2-3).
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Artinya Allah tidak akan menerima amalan kecuali yang dikerjakan pelakunya dengan ikhlas untuk Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [7/61] cet. al-Maktabah at-Taufiqiyah)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah tabaraka wa ta’ala berfirman, ‘Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang di dalamnya dia mempersekutukan selain-Ku bersama dengan diri-Ku maka akan Kutinggalkan dia bersama kesyirikannya.” (HR. Muslim no. 2985)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada nabi-nabi sebelummu: Apabila kamu berbuat syirik pastilah akan lenyap seluruh amalmu, dan kamu benar-benar akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. az-Zumar: 65)
Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata, “Tidak dinilai sah amalan-amalan kecuali jika disertai dengan sikap berlepas diri dari penyembahan kepada segala sesembahan selain Allah.”(lihat Qurratul ‘Uyun al-Muwahhidin, hal. 4)
Tauhid menjadi perintah yang paling agung, juga disebabkan ia adalah cabang iman yang paling mulia. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman itu terdiri dari tujuh puluh lebih atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan laa ilaha illallah, yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.” (HR. Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35, lafal ini milik Muslim)
Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan bahwa yang paling utama di antara semua cabang itu adalah tauhid; yang hukumnya wajib atas setiap orang, dan tidaklah dianggap sah cabang-cabang iman yang lain kecuali setelah sahnya hal ini.” (lihat Syarh Muslim [2/88] cet. Dar Ibnul Haitsam). Alasannya karena tauhid adalah cabang iman yang tertinggi, maka mendakwahkannya merupakan dakwah yang paling utama. Syaikh Abdul Malik Ramadhani hafizhahullah berkata,
“Oleh sebab itu para da’i yang menyerukan tauhid adalah da’i-da’i yang paling utama dan paling mulia. Sebab dakwah kepada tauhid merupakan dakwah kepada derajat keimanan yang tertinggi.” (lihat Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, hal. 16)
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma mengatakan: Ketika mengutus Mu’adz menuju Yaman, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepadanya, “Sesungguhnya kamu akan menjumpai suatu kaum dari kalangan Ahli Kitab. Hendaklah yang pertama kali kamu serukan kepada mereka adalah supaya mereka mentauhidkan Allah ta’ala…” (HR. Bukhari no. 7372)
Syaikh Abdul Malik Ramadhani hafizhahullah berkata, “Berdasarkan hal ini, maka sesungguhnya seluruh seruan yang ditegakkan dengan klaim ishlah/perbaikan sedangkan ia tidak memiliki pusat perhatian dalam masalah tauhid, tidak pula berangkat dari sana, niscaya dakwah semacam itu akan tertimpa penyimpangan sebanding dengan jauhnya mereka dari pokok yang agung ini. Seperti halnya orang-orang yang menghabiskan umur mereka dalam upaya memperbaiki hubungan antara sesama makhluk semata, akan tetapi hubungan mereka terhadap al-Khaliq -yaitu aqidah mereka- sangat menyelisihi petunjuk salafus shalih.” (lihat Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, hal. 17)
Keagungan tauhid dapat kita ketahui dari sekian banyak faidah dan manfaat yang bisa diraih oleh orang yang benar-benar merealisasikannya di dalam hidup. Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Perkara paling agung yang diperintahkan Allah adalah tauhid, yang hakikat tauhid itu adalah mengesakan Allah dalam ibadah. Tauhid itu mengandung kebaikan bagi hati, memberikan kelapangan, cahaya, dan sikap lapang dada. Dan dengan tauhid itu pula akan lenyaplah berbagai kotoran yang menodainya. Tauhid mengandung kemaslahatan bagi badan, serta bagi [kehidupan] dunia dan akhirat. Adapun perkara paling besar yang dilarang Allah adalah syirik dalam beribadah kepada-Nya. Yang hal itu menimbulkan kerusakan dan penyesalan bagi hati, bagi badan, ketika di dunia maupun di akhirat. Segala kebaikan di dunia dan di akhirat adalah buah dari tauhid. Demikian pula, semua keburukan di dunia dan di akhirat adalah buah dari syirik.” (lihat al-Qawa’id al-Fiqhiyah, hal. 18)
Tauhid juga merupakan kunci untuk masuk surga dan selamat dari kekalnya siksa neraka. 
 Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, niscaya dia masuk ke dalam neraka.” Dan aku -Ibnu Mas’ud- berkata, “Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia pasti akan masuk surga.” (HR. Bukhari no. 1238 dan Muslim no. 92)
Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Di antara keutamaan tauhid yang paling besar adalah ia merupakan sebab yang menghalangi kekalnya seorang di dalam neraka, yaitu apabila -minimal- di dalam hatinya masih terdapat tauhid meskipun seberat biji sawi. Kemudian, apabila tauhid itu sempurna di dalam hati maka akan bisa menghalangi masuk neraka secara keseluruhan/tidak masuk neraka sama sekali.” (lihat al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid, hal. 17)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan akan mengampuni dosa-dosa lain di bawah tingkatan syirik, yaitu bagi orang-orang yang Allah kehendaki.” (QS. an-Nisaa’: 48)
Tauhid adalah kunci ampunan dari Allah ta’ala.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah ta’ala berfirman, “Wahai anak Adam! Seandainya kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa hampir sepenuh isi bumi lalu kamu menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, niscaya Aku pun akan mendatangimu dengan ampunan sebesar itu pula.” (HR. Tirmidzi no. 3540 dan dihasankan olehnya dan dinilai ṣaḥīḥ oleh Syaikh al-Albani)
Dengan demikian, setiap muslim dan muslimah tentu saja merasa tertuntut untuk mengenali tauhid lebih dalam. Sebab, tanpa memahami tauhid dengan baik mustahil seorang hamba bisa menunaikan ibadah kepada Allah dengan benar dan sempurna. Sebagaimana orang yang tidak mengenali seluk beluk syirik pun tidak akan aman dari jebakan syirik dan pemujaan kepada selain-Nya. 

Komentar Terbaru

Just load it!