Siapa Yang Menciptakan Kita?


Sahabat seakidah, para pemuda muslim yang dirahmati Allah. Sudah menjadi keyakinan kita bersama, bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta dan pengatur alam semesta ini. Langit, bumi, matahari, bulan, manusia, tumbuhan, dan hewan-hewan. Semuanya diciptakan dan dikuasai oleh Allah semata. Inilah yang biasa kita kenal dengan istilah tauhid rububiyah.


Pengertian Tauhid Rububiyah
Rububiyah berasal dari kata rabb. Syaikh Prof. Dr. Ibrahim ar-Ruhaili hafizhahullah berkata, “Rabb menurut bahasa digunakan untuk tiga makna; sayyid/tuan yang dipatuhi, maalik/pemilik atau penguasa, atau sosok yang melakukan ishlah/perbaikan untuk selainnya.” (lihat transkrip ceramah Syarh Tsalatsat al-Ushul milik beliau)

Imam ar-Raghib al-Ashfahani rahimahullah berkata, “Akar kata dari Rabb adalah tarbiyah; yaitu menumbuhkan sesuatu dari satu keadaan kepada keadaan berikutnya secara bertahap hingga mencapai kesempurnaan.” (lihat al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an [1/245]).

Secara sederhana, tauhid rububiyah bisa didefinisikan dengan mengesakan Allah dalam hal penciptaan, kekuasaan, dan pengaturan (lihat al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid [1/5-6] cet. Maktabah al-’Ilmu)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apakah ada pencipta selain Allah yang memberikan rizki kepada kalian dari langit dan bumi?” (QS. Fathir: 3).
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan milik Allah lah kekuasaan atas langit dan bumi.” (QS. Ali ‘Imran: 189).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: Siapakah yang memberikan rizki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan, siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, siapakah yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan. Niscaya mereka akan menjawab, Allah. Maka katakanlah, Lalu mengapa kalian tidak bertakwa.” (QS. Yunus: 31)

Apabila diringkas lagi, bisa disimpulkan bahwa tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah dalam hal perbuatan-perbuatan-Nya (lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 17, Qathfu al-Jana ad-Dani, hal. 56, dan at-Tam-hid li Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 6)

Tiga Kemungkinan Terjadinya Alam Semesta
Secara logika, ada tiga kemungkinan teori terjadinya alam semesta:
  • Ia terjadi begitu saja secara tiba-tiba, tanpa ada pencipta
  • Ia menciptakan dirinya sendiri
  • Ia ada karena diciptakan
Kemungkinan pertama dan kedua jelas tertolak. Karena sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba tidak mungkin bisa tertata dengan rapi dan teratur pada asal pembentukannya, maka lebih tidak mungkin lagi ia bisa tertata dengan baik dalam perkembangannya. Sebagaimana juga mustahil ia bisa menciptakan dirinya sendiri. Karena sebelum ada, alam semesta ini tidak ada. Bagaimana mungkin sesuatu yang tidak ada bisa mencipta? Ada saja tidak!

Oleh sebab itu hanya kemungkinan ketiga yang tersisa, yaitu alam ini ada karena diciptakan. Adapun penciptanya tidak lain adalah Allah ta’ala. Allah ta’ala telah mengisyaratkan tiga kemungkinan ini dalam firman-Nya (yang artinya), “Apakah mereka itu tercipta tanpa ada sesuatu apapun sebelumnya, ataukah mereka sendiri yang menciptakan?” (QS. ath-Thur: 35). Maka sangatlah wajar jika seorang arab yang mau menggunakan akalnya seperti Jubair bin Muth’im pun seketika tertarik kepada Islam setelah mendengar dibacakannya ayat ini (lihat Syarh Tsalatsat al-Ushul karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, hal. 17-18 cet. Dar al-Kutub al-’Ilmiyah, lihat juga Fath al-Bari karya al-Hafizh Ibnu Hajar [8/708] cet. Dar al-Hadits)

Dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im, dari ayahnya -semoga Allah meridhainya-, dia berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat ath-Thur pada saat sholat Maghrib. Tatkala beliau sampai pada ayat ini (yang artinya), “Apakah mereka itu diciptakan tanpa ada sesuatu sebelumnya, ataukah mereka sendiri yang menciptakan? Apakah mereka yang menciptakan langit dan bumi? Bahkan, mereka pun tidak meyakininya. Apakah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabb-mu, ataukah mereka yang menguasainya?” (QS. ath-Thur: 35-37). Jubair bin Muth’im berkata, “Hampir-hampir saja hatiku melayang.” (HR. Bukhari no. 4854)

Tauhid Rububiyah Saja Tidak Cukup!
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Bukanlah yang dimaksud dengan tauhid itu sekedar tauhid rububiyah yaitu keyakinan bahwa Allah semata yang menciptakan alam sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang dari kalangan ahli kalam dan tasawuf. Bahkan, mereka menyangka apabila mereka telah menetapkan kebenaran hal ini dengan dalil maka mereka merasa telah mengukuhkan hakikat tauhid. Mereka beranggapan apabila telah menyaksikan dan mencapai tingkatan ini artinya mereka berhasil menggapai puncak tauhid. Padahal, apabila ada orang yang mengakui sifat-sifat yang menjadi keagungan Allah ta’ala, menyucikan-Nya dari segala hal yang mencemari kedudukan-Nya, dan meyakini Allah satu-satunya pencipta segala sesuatu, tidaklah dia menjadi seorang muwahid sampai dia mengucapkan syahadat la ilaha illallah; tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata, sehingga dia mengakui bahwa Allah semata yang berhak diibadahi dan dia pun menjalankan ibadah kepada Allah dengan tidak mempersekutukan-Nya.” (dikutip dari Fath al-Majid, hal. 15-16)

Orang Kafir Pun Mengakui Tauhid Rububiyah
Tauhid rububiyah adalah sesuatu yang telah menjadi fitrah manusia dan hakikat yang diterima oleh akal sehat mereka. Orang-orang kafir sekalipun sebenarnya mengimani hal ini di dalam hatinya.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Para rasul mereka pun mengatakan, “Apakah ada keraguan terhadap Allah; padahal Dia lah yang menciptakan langit dan bumi.”.” (QS. Ibrahim: 10).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan sungguh, jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Tentu mereka akan menjawab, ‘Yang menciptakannya adalah Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui’.” (QS. az-Zukhruf: 9)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan diri mereka, niscaya mereka menjawab: Allah. Lalu dari mana mereka bisa dipalingkan (dari menyembah Allah).” (QS. az-Zukhruf: 87).

Imam Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi rahimahullah berkata, “Sesungguhnya orang-orang musyrik arab dahulu telah mengakui tauhid rububiyah. Mereka pun mengakui bahwa pencipta langit dan bumi ini hanya satu.” (lihat Syarh al-’Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 81, lihat juga Fath al-Majid, hal. 16, Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [6/201] [7/167])

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada Allah, melainkan mereka juga terjerumus dalam kemusyrikan.” (QS. Yusuf: 107).

Ikrimah berkata, “Tidaklah kebanyakan mereka -orang-orang musyrik- beriman kepada Allah kecuali dalam keadaan berbuat syirik. Apabila kamu tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Maka mereka akan menjawab, ‘Allah’. Itulah keimanan mereka, namun di saat yang sama mereka juga beribadah kepada selain-Nya.” (lihat Fath al-Bari [13/556])

Konsekuensi Tauhid Rububiyah
Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah berkata, “Kemudian, sesungguhnya keimanan seorang hamba kepada Allah sebagai Rabb memiliki konsekuensi mengikhlaskan ibadah kepada-Nya serta kesempurnaan perendahan diri di hadapan-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Aku adalah Rabb kalian, maka sembahlah Aku.” (QS. al-Anbiya’: 92). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya),“Wahai umat manusia, sembahlah Rabb kalian.” (QS. al-Baqarah: 21). Keberadaan Allah sebagai Rabb seluruh alam memiliki konsekuensi bahwa Allah tidak akan meninggalkan mereka dalam keadaan sia-sia atau dibiarkan begitu saja tanpa ada perintah dan larangan untuk mereka. 

Akan tetapi Allah menciptakan mereka untuk mematuhi-Nya dan Allah mengadakan mereka supaya beribadah kepada-Nya. Maka orang yang berbahagia diantara mereka adalah yang taat dan beribadah kepada-Nya. Adapun orang yang celaka adalah yang durhaka kepada-Nya dan lebih memperturutkan kemauan hawa nafsunya. Barangsiapa yang beriman terhadap rububiyah Allah dan ridha Allah sebagai Rabb maka dia akan ridha terhadap perintah-Nya, ridha terhadap larangan-Nya, ridha terhadap apa yang dibagikan kepadanya, ridha terhadap takdir yang menimpanya, ridha terhadap pemberian Allah kepadanya, dan tetap ridha kepada-Nya tatkala Allah tidak memberikan kepadanya apa yang dia inginkan.” (lihat Fiqh al-Asma’ al-Husna, hal. 97)
Dari penjelasan Syaikh di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa tauhid rububiyah memiliki banyak konsekuensi, diantaranya adalah:
  1. Mengikhlaskan ibadah kepada Allah semata
  2. Tunduk dan ridha kepada perintah dan larangan Allah
  3. Ridha terhadap rizki yang Allah berikan kepada dirinya
  4. Ridha terhadap musibah yang ditakdirkan Allah menimpa dirinya
  5. Tetap ridha meskipun Allah tidak memberikan kepadanya apa yang diinginkan olehnya
Dengan demikian, seorang yang mengimani rububiyah Allah semestinya beribadah kepada Allah saja, tidak kepada selain-Nya. Beramal katena-Nya, bukan karena ingin mendapatkan pujian atau semata-mata untuk mendapatkan kesenangan dunia. Selain itu, seorang yang mengimani rububiyah Allah akan patuh kepada perintah dan larangan-Nya. Dia juga senantiasa merasa ridha kepada Allah atas pemberian Allah kepadanya, sedikit ataupun banyak. Begitu pula, tatkala musibah melanda, dia tidak akan marah kepada Allah. Dia akan sabar menghadapinya dan ridha kepada Allah atas takdir-Nya. Bahkan, seandainya Allah tidak berkenan memberikan kepadanya sesuatu yang sangat dia inginkan -setelah dia menempuh jalan yang benar untuk meraihnya- maka dia pun akan tetap merasa ridha kepada Allahta’ala. Allah Maha Bijaksana, Allah Maha Mengetahui, dan Allah Maha Adil. Allah tidak pernah menzalimi hamba-hamba-Nya. Dan Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan amal mereka. Wallahu a’lam bish shawaab.

Komentar Terbaru

Just load it!