Jangan Putus Asa dengan Dosa


Dosa, sebuah perkara yang meresahkan hati insan beriman. Keberadaannya tidak menjadikan tentram. ‘Memelihara’ dosa sama saja dengan menyimpan bom waktu, yang suatu ketika akan menghancurkan kebahagiaan seorang hamba. Di antara tipuan setan kepada orang-orang yang berdosa adalah perasaan putus asa dari rahmat dan ampunan-Nya sehingga merasa tidak ada lagi harapan dan cita-cita untuk bertaubat kepada-Nya. Aduhai, apakah kita ragu akan kasih sayang dan ampunan-Nya?


Saudaraku seakidah, para pemuda muslim yang dirahmati Allāh. Ketahuilah, Allāh ta’āla telah berfirman (yang artinya),
“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas kepada dirinya; Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allāh. Sesungguhnya Allāh mengampuni segala macam dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. az-Zumar: 53)
Kapan saja seorang hamba terjerumus dalam dosa,  Allāh ta’āla tetap bentangkan tangan-Nya untuk menerima taubat mereka. Dari Abu Musa raḍiyallāhu’ anhu dari Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
“Sesungguhnya Allāh ‘azza wa jalla senantiasa membentangkan tangan-Nya di waktu malam untuk menerima taubat pelaku dosa di waktu siang dan membentangkan tangan-Nya di waktu siang untuk menerima taubat pelaku dosa di waktu malam, sampai matahari terbit dari tempat tenggelamnya.” (HR. Muslim no. 2759).
Selama matahari masih terbit dari arah timur dan nyawa belum ada di tenggorokan, pintu taubat selalu terbuka. Dari Abu Hurairah raḍiyallāhu’ anhu, Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang bertaubat sebelum terbitnya matahari dari arah tenggelamnya niscaya Allāh masih menerima taubatnya.” (HR. Muslim no. 2703)
Sebesar apapun dosa, selama seorang hamba tulus bertaubat kepada Allāh ta’āla, niscaya Allah pun akan mencurahkan maghfirah-Nya. Dari Abu Sa’id al-Khudri raḍiyallāhu’ anhu, Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Dahulu di kalangan Bani Isra’il ada seorang lelaki yang telah membunuh 99 jiwa manusia. Kemudian dia pun keluar dan mendatangi seorang rahib, lalu dia bertanya kepada rahib itu. Dia mengatakan, “Apakah aku masih bisa bertaubat?”. Rahib itu menjawab, “Tidak.” Maka lelaki itu pun membunuhnya.
Setelah itu, ada seseorang yang memberikan saran kepadanya, “Datanglah ke kota ini dan itu.” Kemudian, di tengah-tengah perjalanan tiba-tiba ajal menjemputnya. Dia meninggal dalam keadaan dadanya condong ke arah kota tujuannya.
Terjadilah pertengkaran antara Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab. Allāh pun mewahyukan kepada kota yang satu, “Mendekatlah.” Dan Allah mewahyukan kepada kota yang lainnya, “Menjauhlah.” Lalu Allah memerintahkan, “Ukurlah berapa jarak antara keduanya.” Ternyata didapati bahwa lelaki tersebut lebih dekat sejengkal dengan kota yang baik; maka diampunilah dia.” (HR. Bukhari no. 3470 dan Muslim no. 2766, ini lafal Bukhari)
Allāh ta’āla pun sangat bergembira dengan taubat yang ikhlas dari seorang hamba. Dari Anas bin Malik raḍiyallāhu’ anhu, Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sungguh, Allāh jauh lebih bergembira terhadap taubat hamba-Nya ketika dia bertaubat kepada-Nya daripada salah seorang dari kalian yang suatu saat mengendarai hewan tunggangannya di padang yang luas, namun tiba-tiba hewan itu lepas darinya. Padahal, di atasnya terdapat makanan dan minumannya. Dia pun berputus asa untuk bisa mendapatkannya kembali. Lalu dia mendatangi sebuah pohon kemudian berbaring di bawah naungannya dengan perasaan putus asa dari memperoleh tunggangannya tadi. Ketika dia sedang larut dalam perasaan semacam itu, tiba-tiba hewan tadi telah ada berdiri di sisinya. Lalu dia pun meraih tali pengikat hewan tadi, dan karena saking bergembiranya dia pun berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabbmu.’ Dia salah berucap gara-gara terlampau gembira.” (HR. Bukhari no. 6309 dan Muslim no. 2747, lafal milik Muslim)
Dosa di mata Seorang Mukmin
Bagi seorang mukmin, dosa adalah petaka di dalam kehidupannya. Sehingga sekecil apapun dosa, maka itu pasti melukai hati dan perasaannya. Abdullah bin Mas’ud raḍiyallāhu’ anhu berkata,
“Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya seperti orang yang sedang duduk di bawah kaki bukit dan khawatir kalau-kalau bukit itu akan runtuh menimpanya.”
Adapun orang yang fajir/pendosa maka dia melihat dosa-dosanya seolah-olah seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya lalu dia usir dengan cara begini.”
Abu Syihab -salah seorang periwayat- berkata, “Maksudnya adalah dengan sekedar menggerakkan tangan di atas hidungnya.” …
(HR. Bukhari no. 6308)
Istighfar Nabi
Apa yang membuat kita malas bertaubat? Padahal Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam saja -manusia yang paling dalam ilmunya, paling bertakwa, dan paling takut kepada Allah- senantiasa bertaubat dan beristighfar kepada Allah puluhan kali setiap harinya.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu’ anhu- Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Demi Allāh, sesungguhnya meminta ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Bukhari no 6307)
Dari al-Agharr al-Muzani -raḍiyallāhu’ anhu- Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Wahai umat manusia, bertaubatlah kepada Allāh. Karena sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari kepada-Nya seratus kali.” (HR. Muslim no 2702)
an-Nawawi rahimahullah berkata setelah menjelaskan kandungan hadits ini,
“Adapun kita -apabila dibandingkan dengan Nabi- maka sesungguhnya kita ini jauh lebih membutuhkan istighfar dan taubat -daripada beliau-…” (Syarh Muslim [8/293]).
Ya Allāh, sesungguhnya kami telah menzalimi diri kami. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.

Oleh seorang hamba yang berlumuran dengan dosa
-semoga Allāh mengampuni dosa dan kesalahannya-
___
* sumber ilustrasi gambar: http://ht.ly/dZQp9

Komentar Terbaru

Just load it!