Pertolongan yang Pasti Datang


Perjalanan panjang Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam dalam menyebarkan Dienul Islam segera mencapai ujungnya. Kemenangan demi kemenangan terus dibukukan oleh Pasukan Islam. Sehingga wilayah yang berada di bawah kendali Syariat Islam juga semakin luas.

Manusiapun berbondong-bondong masuk ke dalam pelukan Dienul Islam. Baik langsung di hadapan Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam maupun lewat para shahabat. Baik sendiri-sendiri maupun satu kaum sekaligus. Baik karena telah terbuka hatinya untuk menerima kebenaran maupun karena terpaksa.
Puncak dari perjalanan yang penuh dengan perjuangan dan pengorbanan ini adalah penaklukan Kota Mekkah yang biasa dikenal sebagai “Fathu Mekkah”. Penaklukan tanpa merendahkan seorangpun. Penguasaan tanpa mengalahkan siapapun. Dan tanpa menumpahkan setetes darahpun.

Segera Ka’bah dibersihkan dari setiap noda syirik. Setiap berhala yang disembah di Kota Mekkah dan sekitarnya segera dirubuhkan dan dihancurkan. Sehingga tidak ada satupun yang tersisa.
Inilah perwujudan dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan [QS. an-Nashr  : 1]
Allah Subhanahu wa Ta’ala menolong Pasukan Islam dengan mengirimkan tentara malaikat yang kebanyakan tidak tampak dalam pandangan manusia. Pertolongan juga datang dalam bentuk badai pasir yang memporak-porandakan pasukan gabungan musyrikin yang sedang mengepung Kota Madinah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelipkan rasa takut di dalam hati musuh-musuh Islam sejarak satu bulan perjalanan. Sehingga berkali-kali Pasukan Islam dengan sedikit personil mampu mengalahkan pasukan musuh yang berjumlah lebih besar. Bahkan Pasukan Gabungan Romawi pun tidak mampu menundukkan Pasukan Islam.

Makna Lain

Ayat di atas juga memiliki makna lain bagi Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam. Inilah sebagian tanda bahwa ajalnya telah semakin dekat. Saat tauhid telah ditegakkan, syariat telah disebarkan, dan negeri-negeri telah ditaklukkan.
Lebih dari itu, hati-hati manusiapun telah ditundukkan. Mereka tidak lagi menghambakan diri kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka tidak menyerahkan jiwa kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka tidak rukuk dan sujud kecuali di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Bila tugas sudah paripurna, maka tidak ada lagi yang tersisa kecuali melaporkan kembali kepada pemberi tugas. Dan kematian hanyalah gerbang menuju kehidupan selanjutnya. Sebagaimana kelahiran adalah gerbang memasuki kehidupan dunia yang fana ini.
Di akhirat kelak neraca keadilan akan ditegakkan, segala permasalahan akan dituntaskan dan setiap hutang piutang akan diselesaikan. Tidak ada lagi yang tersembunyi, tidak ada lagi manipulasi dan tidak ada lagi lobi-lobi. Setiap titik amal akan mendapat balasannya. Yang baik dan yang buruk tanpa kecuali.

Menyongsong Pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala

Setiap kemenangan yang diraih dalam mendaki tangga menuju puncak kejayaan tidak terlepas dari pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu bagaimana kita bisa menyongsong pertolongan yang telah dijanjkan sebagaimana telah dilimpahkan kepada generasi pendahulu kita?
Ada banyak hal yang bisa kita lakukan. Namun semua berpulang kepada tiga hal berikut ini :
  • Bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
  • Menegakkan tauhid dan menjauhi syirik dalam berbagai bentuknya
  • Mengikuti sunnah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam dan meninggalkan segala macam bid’ah

Komentar Terbaru

Just load it!