Yang Berada di Tengah-tengah


Secara harfiah makna al-Wasith adalah di tengah-tengah. Dari sini lahir kata wasit yang banyak dipakai dalam dunia olahraga. Seorang wasit memang harus berada di tengah alias tidak memihak kepada salah satu pemain. Lebih jauh berada di tengah-tengah juga mengandung makna bersikap adil.

Kata inilah yang diambil sebagai judul kitab yang ditulis oleh Ibnu Taimiyyah, yaitu “Aqidah Wasithiyyah”. Satu pemilihan judul yang sangat tepat karena aqidah Islam adalah aqidah yang paling adil di antara segala aqidah yang bertebaran di muka bumi ini. Setelah memahami aqidah ini, maka aqidah yang lain akan tampak ekstrim.
Inilah beberapa contoh di antaranya.

Tauhid

Aqidah Islam meletakkan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai satu-satunya ilah yang berhak disembah dan satu-satunya rob yang menciptakan dan memelihara alam semesta. Pada ekstrim kiri kita tahu ada orang-orang yang tidak mempercayai adanya tuhan dalam bentuk apapun. Walaupun pada kenyataannya kemungkinan besar dia mempertuhankan sesuatu. Entah uang, jabatan, wanita atau yang lainnya.
Pada sisi lainnya kita bisa melihat ternyata masih banyak orang yang menyembah banyak tuhan atau dewa. Ada yang menyembah tiga tuhan dan ada pula yang mengagungkan tiga dewa. Ada orang yang secara rutin memberikan sesajian kepada dewa laut, dewa gunung, dewa keris, dewa perempatan dan lain-lain.
Bahkan di kalangan orang yang mengaku beragama Islam juga terjadi penyimpangan. Satu saat mungkin dia melaksanakan shalat tapi masih juga percaya kepada omongan dukun. Mengaku Islam tapi suka membaca ramalan bintang. Ini adalah sikap mendua yang dilarang dalam aqidah Islam.

Pernikahan

Islam mensyariatkan pernikahan yang sah antara laki-laki dan wanita. Di dalam bahtera rumah tangga ini suami dan istri memiliki hak dan kewajiban masing-masing. Keberadaan mereka diakui dan anak-anak yang dilahirkan memiliki status yang jelas.
Sementara itu ada aqidah yang mensyariatkan bagi umatnya untuk hidup membujang. Laki-laki menjauhi wanita dan sebaliknya. Tujuannya adalah untuk menyucikan diri. Saya sungguh tidak mampu melihat hubungannya. Bagaimana jika semua orang menganut faham ini. Umat manusia akan punah.
Di sisi lain ada orang yang menganut free sex alias hubungan kelamin secara bebas. Mereka bebas berganti-ganti pasangan asalkan dilandasi suka sama suka. Anak-anak mereka menjadi tidak jelas nasabnya karena seringkali tidak diketahui siapa ayahnya. Di sini wanita dan anak-anak menjadi obyek yang paling banyak dilanggar haknya.
Akhir-akhir ini merebak pula pernikahan sesama jenis. Laki-laki menikahi laki-laki dan wanita menikah dengan sesama wanita. Kebejatan yang dipelopori oleh umat Nabi Luth alaihi salam. Dan yang membuat saya semakin sedih adalah mereka semakin berani menunjukkan penyimpangan orientasi seksualnya secara terbuka. Kerusakan yang hanya akan mendatangkan murka Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Makanan

Syariat Islam telah secara sangat cermat memilah antara makanan yang halal dan yang haram. Hanya yang baik saja yang dihalalkan, sedang makanan yang diharamkan pasti mengandung lebih banyak madhorot. Makanan halal ini bila dikonsumsi dengan seimbang dan dalam porsi yang cukup, maka kebutuhan gizi tubuh kita pasti akan terpenuhi.
Namun ternyata banyak orang yang mencari di sebaliknya. Babi dan khamr (minuman keras) yang sangat jelas dalil pengharamannya ternyata mereka sikat juga. Minuman keras oplosan menjadi favorit karena harganya murah walaupun telah banyak korban meninggal karenanya.
Berseberangan dengan pendirian di atas, ada orang yang sangat keras pada dirinya dengan menghindari makanan yang telah dihalalkan. Seperti orang yang menolak mengonsumsi daging. Akibatnya asupan gizi mereka menjadi tidak seimbang. Karena beberapa zat yang diperlukan tubuh tidak terpenuhi.
Terjemah Aqidah Wasithiyyah
Terjemah Aqidah Wasithiyyah
Melihat kenyataan di atas, buku terjemah yang berbentuk buku saku ini sangat layak untuk dimiliki, dipelajari dan dipahami. Dengan manfaat sangat besar yang dikandungnya, harga semestinya tidak menjadi masalah.

Komentar Terbaru

Just load it!