Yang Tetap Murni Sehingga Nanti


Dienul Islam adalah risalah penutup dari seluruh risalah yang dibawa oleh para rasul. Konsekuensinya adalah : pertama, risalah itu harus sempurna. Karena tidak akan ada lagi rasul yang datang setelahnya. Sehingga risalah itu harus berlaku sepanjang sisa usia alam semesta ini.
Kedua, risalah itu harus terjaga kemurniannya. Artinya hingga saatnya nanti risalah itu harus diajarkan dan dilaksanakan sebagaimana saat pertama kali diturunkan. Padahal penyelewengan sangat rawan terjadi. Apalagi pada masa yang telah jauh dari masa kenabian.
Namun dienul Islam telah dijamin memenuhi kedua “persyaratan” tersebut. Kita telah bicara tentang kesempurnaan dienul Islam. Sedang argumentasi tentang kemurnian dan terjaganya risalah adalah :

Adz Dzikr

Adz Dzikr atau Al Qur’an adalah kitab suci bagi Umat Islam yang akan selalu terjaga kemurnian dan kebenarannya. Setiap penyimpangan yang terjadi pasti akan ketahuan cepat atau lambat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Sesungguhnya kamilah yang menurunkan adz Dzikr (al Qur’an) dan Kami benar-benar memeliharanya.” [QS. Al-Hijr : 9]
Berulang kali dilakukan upaya untuk merombak Al Qur’an namun selalu terbongkar dan diluruskan lagi. Tidak terkecuali yang pernah dilakukan oleh Kolonel Muamar Khadafi.
Dia memerintahkan untuk menghilangkan kata “Qul” (kata perintah yang artinya : “katakanlah”). Logika dia adalah itu ucapan Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga yang seharusnya kita baca adalah isi perintah.
Tapi dia lupa bahwa yang kita baca adalah Kalamullah sehingga memang harus kita baca apa adanya. Kemudian yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam adalah tetap membaca “qul”.
Perintah telah dikeluarkan untuk mencetak Al Qur’an tanpa kata “Qul” dan memusnahkan yang benar. Sebagai pemimpin tentu mudah saja dia menitahkan hal ini. Dan perintah tersebut segera dilaksanakan.
Hingga sampailah berita ini kepada Syaikh Bin Baz rohimahullah. Nasehat segera diberikan secara pribadi dengan menyertakan dalil-dalil yang kuat. Dengannya Allah Subhanahu wa Ta’ala membuka hati pemimpin Libya itu. Lalu dikeluarkan lagi perintah untuk mengembalikan Al Qur’an sebagaimana seharusnya.
Inilah salah satu contoh penjagaan atas Adz Dzikr. Masih banyak contoh lain. Atau mungkin ada yang punya cerita atau pengalaman ? Bisa dibagi di sini.

Ilmu Sanad

Sanad atau isnad adalah silsilah (mata rantai) perawi yang menghubungkan kepada suatu matan. Sedangkan matan adalah ucapan atau kalimat yang berhenti padanya serangkaian sanad. Inilah cara pertama dan utama untuk menetapkan derajat satu hadits.
Ilmu sanad adalah kekhususan Dienul Islam yang tidak dimiliki oleh agama yang lain. Ilmu sanad menelusuri jejak orang yang menyampaikan sebuah hadits. Agar diterima riwayatnya seorang perawi harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Kaidah yang masih dijadikan acuan hingga saat ini  adalah yang ditetapkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim.
Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi di antaranya :
  • Jati diri/biografinya diketahui
  • Diketahui aqidahnya lurus
  • Diketahui berilmu dan diambil ilmunya
  • Dikenal memiliki akhlak yang baik
  • Dikenal jujur / bukan pembohong
  • Diketahui memiliki ingatan yang kuat
  • Tersambung dengan perawi di atasnya
Dari sini bisa dipilah dan dipilih apakah suatu hadits layak dijadikan hujjah atau justru harus dicampakkan ke tempat sampah. Satu matan bisa ditelusuri apakah benar sabda Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam atau atsar dari para shahabat atau igauan orang yang tidak bertanggung jawab.
Tanpa alat ini kita akan tersesat. Seperti orang buta yang meraba di dalam gelap. Bahkan bisa jadi kita akan memegang ucapan dari orang yang “tidak mau disebutkan jati dirinya”. Suatu bentuk melepaskan diri dari tanggung jawab. Ibarat lempar batu sembunyi tangan.
Tanpa alat ini orang bisa ngomong apa saja tanpa merasa perlu bertanggung jawab atas ucapannya. Fitnah sana fitnah sini lalu bersembunyi. Padahal akibat dari satu ucapan bisa sangat luas. Kalau dibiarkan bakalan menimbulkan kekacauan. Orang tidak bisa lagi membedakan yang benar dari yang salah. Yang berilmu dan yang jahil disamaratakan. Lalu kepada siapa kita harus berguru dan mengadu ?

Ulama Mujaddid

Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam perjalanannya segala sesuatu bisa menyimpang dari jalurnya. Demikian pula ajaran Islam. Di setiap tempat dan masa senantiasa terjadi penyimpangan baik dalam hal aqidah maupun syariat. Pada kondisi semacam inilah diperlukan koreksi atas ajaran yang beredar di tengah masyarakat.
Allah Yang Maha Tahu telah menjanjikan untuk menghadirkan ulama yang akan mengoreksi arah gerak Dienul Islam. Ulama yang akan meluruskan lagi aqidah yang menyimpang atau syariat yang melenceng.
Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Sesungguhnya Allah membangkitkan tiap 100 tahun orang-orang yang menjaga Islam” [HR. Abu Dawud dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1874]
Mereka adalah yang disebut sebagai Ulama Mujaddid atau Ulama Pembaharu. Bukan berarti para ulama ini membuat syariat atau ajaran yang baru. Namun mereka mengembalikan syariah sebagaimana diturunkan dahulu. Sebagaimana Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabat berjalan di atasnya.
Beberapa ulama yang diyakini sebagai ulama Mujaddid antara lain :
  • Umar bin Abdul Aziz (cucu Ibnu Umar bin Khothob)
  • Imam Syafi’i
  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
  • Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab at Tamimi
  • Syaikh Al Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani
  • Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Abdurrahman bin Baz
Kebanyakan dari mereka tidak kita kenal. Karena mereka memang bersikap tawadhuk, menghindari publikasi dan popularitas. Namun bukan berarti barokah dakwahnya tidak kita rasakan.

Su’udiyyah al ‘Arobiyyah

Sebagai contoh adalah dakwah yang disebarkan oleh Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman bin ‘Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid at Tamimi (semoga Allah merahmatinya). Perjalanan hidupnya sarat dengan perjuangan untuk menegakkan tauhid, meluruskan aqidah, serta memberantas syirik, khurofat dan bid’ah.
Bersama Muhammad bin Su’ud, sebagai penguasa Negeri Dir’iyyah, mereka bekerja bahu membahu. Asy Syaikh berdakwah dan sang amir melindungi. Tidak butuh waktu lama dakwah telah meluas seiring dengan meluasnya daerah kekuasaan sang amir. Hingga tegaklah Negeri Su’udiyyah al ‘Arobiyyah atau yang dewasa ini kita kenal sebagai Kerajaan Saudi Arabia.

Tegaknya Kerajaan Arab Saudi hingga saat ini adalah sebagai karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian sebagai barokah dari dakwah Asy Syaikh at Tamimi. Getaran dakwah suci ini turut kita rasakan pula di Bumi Pertiwi ini sebagai dakwah salaf. Dakwah yang mengajak kita untuk melaksanakan syariat Islam sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam.

Namun orang-orang jahil yang memusuhi Islam secara gegabah menjulukinya sebagai gerakan Wahabi, Islam garis keras, konservatif, kolot dan berbagai julukan lain yang bernada miring. Hal ini dilakukan tidak lain untuk menjauhkan umat dari dakwah yang murni. Kemudian diikuti oleh orang-orang jahil lainnya yang hanya bisa membebek.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap menjaga kemurnian dien ini. Sehingga nanti saatnya yang tidak seorangpun mengetahui.
Inilah tiga hal yang akan menjaga Dienul Islam tetap di atas jalan yang lurus. Jalan yang akan mengantarkan orang-orang yang beriman menggapai kemenangan yang agung. Semoga kita termasuk di antaranya.

Komentar Terbaru

Just load it!